Jokowi Dan 5 Belalang, Apresiasi Kebangsaan Pelukis Suwito

Suara Seniman

banner iklan 468x60

Namanya Suwito, berprofesi sebagai pelukis. Di bilangan Gunung Sahari dia menempati sanggar sekaligus tempat tinggalnya. Belajar melukis secara otodidak bersama komunitas pelukis di pasar seni Ancol, era 90-an.

Suatu saat pada bulan Februari 2019, di sebuah restoran, Suwito dipertemukan oleh seseorang lelaki setengah baya. Namanya Agus Supriyanto, namun sering dipanggil Romo Agus. Penampilannya kharismatik, sederhana, teduh tutur bahasanya, mengayomi siapapun lawan bicaranya.

Lamun siro sekti ojo mateni
(Meskipun kita hebat berkuasa, tapi jangan sekali kali menjatuhkan)
Lamun siro banter, ojo dhisiki
(Meskipun kita lebih cepat tapi jangan me dahului)
Lamun siro pinter ojo minteri
(Meskipun kita pandai, jangan menggurui)

3 falsafah hidup disampaikan Romo Agus, menjadi nasihat yang begitu melekat dalam benak Suwito. Falsafah itulah yang juga Romo Agus titipkan kepada orang nomer satu di Republik ini.

Romo Agus adalah Paman sepupu Jokowi dari jalur ibundanya. Kepada Suwito, Romo Agus sering bercerita tentang masa kecil Jokowi saat masih hidup susah. Salah satunya adalah kesukaan Jokowi kecil mencari belalang di kebun. Entah mengapa akhirnya Suwito terbersit ide untuk membuat lukisan Jokowi dan 5 ekor belalang dengan warna yang berbeda.

“5 belalang itu ibarat Pancasila” jelas Suwito

Cerita tentang belalang sedikit banyak menginspirasi strategi pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pembangunan Bandara di beberapa kota dilakukan, mengadopsi lompatan belalang dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Percepatan distribusi ekonomi sebagai negara kepulauan dilakukan “loncatan belalang” antar bandara.

Tetapi secara spesifik pengalaman saat Jokowi hidup susah dengan berburu belalang, bisa multi tafsir. Entah digoreng untuk tambahan lauk layaknya kebiasaan masyarakat miskin pedesaan hanya Jokowi dan Romo Agus yang tahu.

Lukisan Jokowi dan belalang yang direstui Romo Agus baru sebatas ide yang suatu saat akan direalisasikan Suwito ke dalam canvas. Namun takdir berkata lain. Romo Agus meninggal dunia dalam pesawat yang membawanya dari Solo ke Jakarta. 27 November 2019 menjadi hari kesedihan yang mendalam bagi keluarga Jokowi. Agus Supriyanto bukan sekedar paman, tetapi sudah dianggap pengganti orang tua di keluarga besar Jokowi.

Wafatnya Romo Agus juga meninggalkan duka mendalam bagi Suwito yang malam harinya, sehari sebelum meninggal sempat berkomunikasi. Seolah-olah mendapat pesan bahwa ide lukisan Jokowi dan belalang¬† harus segera diselesaikannya. Tanggal 3 Agustus 2020 sentuhan pertama kwas Suwito menggores canvas berukuran 120×140 cm. Dan di akhir bulan lukisan itu selesai dengan penuh keharuan layaknya mempersembahkan sesuatu untuk Romo Agus dan Jokowi.

Suwito mengisahkan sejarah lukisan tersebut yang kini masih tersimpan rapi di galerinya. Keinginannya memberikan kepada Jokowi begitu menggebu. Seolah ini menyimpan sejarah masa kecil Jokowi tentang belalang. Romo Agus menjadi saksinya.

Berbagai jalan dicobanya perihal lukisan ini bisa sampai kepada Jokowi. Amanat Romo Agus menjadi persembahan tanpa pamrih dari seorang seniman dalam mengapresiasi 5 belalang sebagai sila dalam Pancasila.

Setiap tanggal 21 Juni Jokowi berulang tahun, keinginan mempersembahkan hadiah lukisan itu semakin menggebu. Suwito mesti menahan diri dengan segala realitanya. Dia merasa bukan siapa-siapa, bukan penentu kebijakan apalagi pengawal pribadi Jokowi. Hanya sebutir pasir yang membentuk tembok dinding pagar istana kebangsaan.

Sabar ya Pak Wit

Reportase : Dahono Prasetyo
(SuluhNusantaraNews-2022

banner 120x600

Tinggalkan Balasan