Catatan Tercecer Tentang RA Kartini

Surat Surat RA Kartini

banner iklan 468x60

Tidak hanya pada RA Kartini para wanita mesti berterima kasih atas inspirasi sejarah yang melahirkan emansipasi. Tapi wajib berterima kasih pula kepada pasangan suami istri Jacques Henrij Abendanon dan Rosa Abendanon

Kedahsyatan surat-surat Kartini dalam pingitan mereka kumpulkan menjadi bentuk pemikiran. Sebuah kedalaman suara hati warga pribumi terjajah yang menuntut kesetaraan sosial dan pendidikan kepada penjajahnya. Tanpa kepedulian mereka berdua, mustahil kita menyematkan gelar pahlawan emansipasi kepada Kartini.

Butuh waktu 60 tahun semenjak meninggal pada 17 September 1904 hingga keluar Keputusan Presiden Republik Indonesia No 108 Tahun 1964 tentang gelar pahlawan emansipasi pada Kartini. Bagaimana hanya bermodal surat surat, Kartini mampu menggerakkan kaum bangsawan Hindia Belanda untuk memikirkan masa depan negara koloninya.

Bersama Stella Zeehandelaar, kedua pasutri Abendanon kemudian menerbitkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang (Door duisternis tot licht) pada tahun 1911 yang berpengaruh besar pada perjuangan Politik Etis atau Politik Balas Budi. Suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan bumiputera.

Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa. Munculnya kaum Etis yang dipelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus) ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para bumiputera yang terbelakang.

Sejurus dengan itu Ratu Wilhelmina yang naik tahta pada 17 September 1901, dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, menyampaikan bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa bumiputera di Hindia Belanda. Hingga suatu saat inisiatif Ratu Wilhelmina yang dianggap sebagai panggilan moral tersebut dirumuskan dalam program Trias Van deventer yang meliputi Pembangunan Irigasi, Program Imigrasi penduduk dan Edukasi bagi pribumi.

Trias Van Deventer menjadi tonggak lahirnya pergerakan nasional kaum terpelajar bumiputera untuk bersatu dan memerdekakan dirinya sendiri, kelak.

Mengenang Kartini tidak sebatas tentang emansipasi wanita. Pingitan tidak selamanya salah karena berhasil melahirkan tulisan pemikiran dahsyat. Kartini juga tidak salah alamat berkirim surat. Dan Hindia Belanda tidak keliru memiliki Wilhelmina sebagai Ratu di era Kartini. Itulah siklus

D. Prasetyo

banner 120x600

Tinggalkan Balasan