Warga Papua Menangis Atau Bertepuk Tangan?

Penulis : Dahono Prasetyo

banner iklan 468x60

Bermain di meja judi luar negeri hanya bisa dilakukan mereka dengan ukuran ekonomi di atas rata-rata. Minimalnya dia seorang pengusaha atau pejabat dengan gelimang materi. Mengejar kemenangan tanpa batas dengan resiko kekalahan tanpa batas pula.

Bagi seorang Lukas Enembe, berjudi bukan lagi berapa uang yang didapat atau dihabiskan. Ini persoalan akhlak seorang pemimpin yang dipercaya mengelola daerah. Yang seharusnya kepalanya berisi kebijakan mensejahterakan warga memperbaiki ketertinggalan dengan daerah lain.

Pemimpin yang seharusnya memikirkan isi meja-meja makan warganya, bukan meja-meja judi di luar negeri.

Gubernur yang berhitung kebutuhan apa yang belum terpenuhi warganya, bukan menghitung berapa peluang menang pasang nomernya.

Kepala Daerah yang mengabdikan hidupnya untuk warga yang mempercayainya, bukan mengabadikan waktu luangnya di dunia adu nasib

Apakah dia berencana hasil kemenangannya berjudi untuk membangun jembatan, jalan, sekolahan atau sarana air bersih? Tentu tidak.

Bagaimana pertanggungjawaban dana otonomi khusus 1000,7 triliun jika warga pedalaman Papua masih tetap hidup di jaman batu.

Angka kesehatan rendah, anak-anak Papua hanya tahu makanan tanpa pernah tahu apa itu gizi?

Mengabadikan nama Gubernur menjadi nama Stadion pada akhirnya menjadi kontradiktif. Kemegahan dan kebesaran berbanding terbalik dengan adab seorang penjudi. Mental buruk yang dipaksakan baik-baik saja menjadi contoh pembodohan yang masif.

Stadion Papua Lukas Enembe

Rakyat Papua kalaupun harus menangis bukan karena mereka sakit kesulitan berobat. Atau kekayaan alamnya dieksploitasi besar-besaran.
Tetapi menangis karena kebodohan Gubernurnya membuang waktu di meja judi, daripada mendatangi suku pedalaman, berbincang tentang nasib dan masa depan generasi Papua.

Lukas Enembe yang lahir di jaman Soeharto, berkuasa di masa SBY, menyelesaikan karirnya di era Jokowi, di KPK di dalam bui.

Bukan karena era Jokowi yang dzolim, tapi tikus-tikus birokrat yang tak kenal kenyang satu persatu dikembalikan lagi ke GOT.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan