Hidup Seperti Monyet Dan Bego

Narasi Kemiskinan

banner iklan 468x60

“Kemiskinan ada 27 juta di Indonesia. Itu berdasarkan standar hidup dunia yang dianggap miskin punya penghasilan USD 2 /hari/ Rp. 30.000. Kalau UMR DKI dijadikan standar, mungkin jumlah orang miskin diatas 100 juta orang.“ kata teman dalam diskusi kemarin.

Di China orang yang membicarakan  kemiskinan rakyat di ranah publik, dianggap sebagai teroris media. Mengapa? Karena kemiskinan itu tidak perlu dibicarakan. Tapi dilakukan tindakan nyata. Kalau dibicarakan dan dinarasikan, itu pasti udah politis dan pasti korup. Bagi Kepala Daerah yang tidak melakukan tindakan nyata mengatasi kemiskinan, maka itu dianggap melawan ideologi. Fair enough

Di Indonesia ini, kemiskinan jadi narasi kampanye ketika Pemilu dan setelah usai pemilu itu terus dibicarakan dan terus, tanpa tindakan nyata. Nanti Pemilu, itu lagi narasinya.

Orang miskin itu lemah. Satu satunya kemewahan yang mereka punya hanyalah harapan. Ya walau sekedar harapan yang tak berujung. Seperti dalam lakon Drama “ Waiting Godot” oleh Samuel Bucket. Elite politik sadar itu. Makanya kemiskinan jadi komoditas politik.

Indonesia ini, disamping banyak orang miskin tapi juga banyak yang sakit jiwa. Lewat sosial media, mereka suka menyalurkan kebencian di luar dirinya. Bencilah tapi jangan secara personal. Tapi bencilah  kepada kemaksiatan., Suka-lah kepada kebenaran dan kebaikan. Apapun itu, mau kanan atau kiri atau ultra kanan atau ultra kiri, standar nya sama aja.

Mengapa? rakyat itu adalah korban dari sistem yang tidak adil. Kan bego kalau sesama rakyat terbelah. Lantas apa lagi yang bisa dijadikan kekuatan? People power untuk melakukan perubahan ? Engga ada ! Ya matilah jadi pecundang menggenggam benci dan marah tak sudah. Mati bego ditengah narasi politik.

Teman diskusi saya terdiam. Mungkin dia tidak sependapat. Sebenarnya saya bicara kepada diri saya sendiri. Kalau saya terus berharap kepada Politik kekuasaan akan hidup makmur, mungkin kini saya menua bego dan akan mati seperti monyet.

Kalau saya sibuk membahas hal di luar diri saya, mungkin saya yang hanya tamatan SMA ini hanya akan jadi penjaga pintu kereta. Tapi saya bukan monyet dan engga mau mati bego. Kini saya menua tapi baik baik saja. Walau bukan konglomerat tapi engga bokek. Udah pasti engga ngaceng di PHP politik.
***
Erizeli Jely Bandaro

banner 120x600

Tinggalkan Balasan