Hizbut Tahrir Penghantar (Conveyor) Dan Aktor Terorisme

Opini Ayik Heriyansyah

banner iklan 468x60

Aktivis HTI selalu mengelak apabila gerakan mereka dikait-kaitkan dengan terorisme. Orang awam pun masih belum percaya, kalau HTI sebenarnya masih bau-bau terorisme. Waktu saya seminar proposal tesis tentang HT, saya berargumen sengit untuk meyakinkan dosen pembimbing bahwa, HT (Hizbut Tahrir) ada kaitannya dengan terorisme.

Unsur pokok sesuatu disebut sebagai terorisme adalah ideologi dan kekerasan.

Ideologi sebagai motif dan tujuan. Kekerasan sebagai metode dan cara untuk menegakkan ideologi. Tingkat-tingkat kekerasan mulai dari kekerasan verbal (hate speech), kekerasan simbolik, kekerasan psikis, dan kekerasan fisik.

Semua bentuk kekerasan, selain kekerasan fisik, sudah jamak dilakukan oleh aktivis HTI. Namun karena kekerasan non fisik dengan motif ideologis tidak diatur dalam UU Terorisme, maka, seolah-olah HTI bukan kelompok teroris.

Jika kita jeli dan jernih melihat konsep thalabun nushrah yang menjadi metode baku HT dalam mendirikan khilafah, dalam thalabun nushrah secara intrinsik dan implisit mengandung ide tentang kekerasan. Dalam konsep tersebut HT melakukan radikalisasi terhadap militer sebagai pemilik kekuatan fisik dan persenjataannya (ahlu quwwah) yang diarahkan untuk menekan penguasa agar menyerahkan kekuasaan kepada HT secara sukarela atau terpaksa (istilamul hukmi).

Thalabun nushrah ini yang menjadikan HT berperan sebagai conveyor belt (penghantar) bagi aksi terorisme sebagaimana yang dikatakan oleh Zeyno Baran (Direktur Pusat Kebijakan Eurasia dan Anggota Senior di Institut Hudson).

Zeyno Baran membuat teori HT sebagai conveyor belt of terroris setelah melakukan penelitian terhadap HT di Asia Tengah pada awal tahun 2000-an. Padahal thalabun nushrah sudah dilakukan HT sejak tahun 1960-an, ketika dipimpin oleh pendirinya Taqiyuddin an-Nabhani. Catatan-catatan tentang thalabun nushrah HT di Yordania, Irak, Mesir, Tunisia, dan Libya ditulis oleh M. Muhsin Radhi (anggota HT Irak) dalam tesisnya yang berjudul Tsaqafah dan Metode Hizbut Tahrir dalam Mendirikan Khilafah di Universitas Baghdad 2006.

Revolusi Suriah 2011 membuka peluang dan kesempatan bagi HT sekaligus momentum HT untuk memperbaharui (merevisi) pendapatnya tentang metode dakwah. HT menghalalkan penggunaan senjata dalam melawan penguasa. HT menggalang opini masyarakat supaya mendukung milisi-milisi bersenjata di Suriah. HT juga melakukan konsolidasi dengan milisi-milisi untuk mematang rencana pendirian khilafah pasca jatuhnya pemerintahan Suriah. Karena merasa tidak sejalan dengan arah perjuangan milisi-milisi, akhirnya HT membentuk milisi sendiri.

Milisi-milisi yang berafiliasi dengan HT mendapat sokongan dana dan senjata dari intelijen Turki. Hal ini diungkap oleh Syaikh Abu Iyas (mantan petinggi HT internasional) yang membuat perpecahan di internal HT internasional. Petinggi HT di Arab menuding Amir HT Abu Rusytah telah menyimpang dan berkhianat.

Dengan demikian HT bukan sekedar menjadi perantara (conveyor), melainkan juga menjadi aktor terorisme. HT merasionalisasi aksi terorisme mereka dengan alasan jihad membela diri dari penguasa zalim. Dengan kata lain, sebenarnya terorisme atas nama jihad menjadi pilihan rasional HT di situasi konflik.

Ini yang harus menjadi perhatian kita semua…
***
Penulis :Ayik Heriansyah
Mantan Aktifis HTI Babel yang sekarang menjadi Pengurus LD-PWNU Jabar

banner 120x600

Tinggalkan Balasan