Tanpa Peradaban Dan Budaya, Agama Tak Ubahnya Menyamakan Manusia Menjadi Binatang

Penulis : H. Tito Gatsu

banner iklan 468x60

Sejak kecil Kita diajari bahwa perbedaan manusia dan binatang adalah terletak pada akal dan budi. Manusia dan binatang sama-sama mempunyai akal tapi manusia mempunyai budi dan binatang tidak, walaupun hal ini terbantahkan kerena ternyata setelah seekor binatang kita latih diapun bisa mempunyai budi. Seperti kesetiaan seekor anjing pada tuannya atau seekor kuda dan lain sebagainya, budi dapat ditanamkan kepada seekor binatang sesuai kehendak pemiliknya. Lalu apa bedanya binatang dengan manusia?

Manusia sungguh dikaruniai kenikmatan yang sangat besar oleh Allah SWT, mempunyai otak yang lebih besar dari binatang, punya hati nurani punya rasa cinta sama dengan binatang tapi memiliki ruang dan kapasitas lebih besar pada semua panca Indra yang membutuhkan intelejensia jauh daripada binatang.

Agama ada didunia semata-mata adalah untuk melatih dan meningkatkan kualitas manusia sejak mulai mencintai sesamanya, memelihara alam dan mencapai kebahagiaan bersama baik dalam menjaga ekosistem kehidupan, mencari ilmu dan pengetahuan untuk kedamaian dan kebahagiaan bersama untuk membangun komunitas yang damai.

Jadi jika agama hanya sebagai alat melatih tanpa makna dan mengabaikan science , kemanusiaan dan hak asasi manusia apa bedanya agama itu seperti melatih binatang? Jadi perbedaan manusia dan binatang ada pada peradaban dan budaya

“Manusia punya peradaban dan budaya. sedangkan binatang tidak.”

Karena saya seorang muslim saya coba menghubungkan peradaban dan manusia melalui Al Qur’an .

Sebuah surat dari Al Qur’an menyebutkan : “Dan masa (kejayaan dan keruntuhan) Kami pergilirkan di antara umat manusia supaya mereka mendapat pelajaran.” (QS Ali Imron [3]

Ayat ini menjelaskan tentang peradaban manusia.

Kemudian Q.S. Al-Baqarah ayat 170:

Apabila dikatakan kepada mereka (oleh siapa pun): ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.

Ayat ini menunjukkan fanatisme sempit orang yang ingin bertaqlid buta.

Padahal science atau itu juga atas kehendak Allah. Bahwa agamapun juga harus mengikuti perkembangan jaman dan peradaban manusia.

Kemudian sebuah pepatah Arab yang diyakini sebagai hadis Nabi mengatakan bahwa “agama adalah akal” (al-dinu huwa al-aql). Pepatah ini sering dikutip ulama dan sarjana Muslim untuk menegaskan bahwa beragama membutuhkan akal agar manusia tidak terjatuh ke dalam taklid buta yang bisa menyesatkan mereka.

Saya senang dengan pepatah ini, bukan hanya karena ia menunjukkan aspek rasionalitas dari Islam, tapi juga karena pepatah itu jika ditarik lebih jauh lagi, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan temuan para saintist tentang hubungan agama dan akal. Agama bukan hanya akal, tapi merupakan produk akal manusia.

Tanpa akal tak ada agama. Hanya makhluk hidup yang berakal yang beragama. Yang tak berakal tidak menciptakan agama dan tak pernah peduli dengan agama.

Yang membedakan manusia dari hewan-hewan lainnya adalah akal yang dimilikinya. Akal adalah lambang kemajuan dalam proses evolusi makhluk-hidup yang panjang. Akal adalah bentuk non-fisik dari otak.

Ia bisa diumpamakan sebagai piranti lunak (software) yang berjalan di atas otak yang merupakan piranti keras (hardware) pada sebuah komputer. Seluruh hewan bertulang belakang (vertebrata) memiliki otak dan sebagian besar hewan tak-bertulang belakang (invertibrata) juga memiliki otak. Ukuran otak manusia lebih besar dibanding rata-rata ukuran otak hewan lainnya. Akal manusia juga merupakan yang tercanggih dibandingkan akal hewan-hewan lainnya.

Jika menggunakan analogi komputer, manusia memiliki prosesor (otak) terbaru dengan sistem operasi (akal) tercanggih, sementara hewan-hewan lain memiliki prosesor dan sistem operasi yang jauh tertinggal. Prosesor dan sistem operasi yang canggih dapat menciptakan banyak hal, seperti memroses kata, mendesain, merekam suara, memutar lagu, dan mengedit film. Sementara prosesor dan sistem operasi yang tertinggal hanya bisa melakukan kerja-kerja terbatas.

Semakin tertinggal sebuah komputer semakin terbatas ia melakukan fungsinya, semakin canggih sebuah komputer semakin banyak kemungkinan yang bisa dilakukan. Tentu saja, otak manusia jauh lebih kompleks dari komputer. Tapi analogi di atas setidaknya bisa membantu kita memahami perbandingan antara apa yang telah dilakukan manusia dengan otaknya dan apa yang telah dicapai hewan-hewan lain.

Kita sering melihat dua buah komputer yang tampilan luarnya sangat mirip namun berbeda dalam kemampuan kerja yang dilakukannya. Komputer dengan “otak” yang lebih maju selalu memiliki kualitas dan kapasitas yang lebih baik.

Begitu juga manusia dibandingkan hewan-hewan lainnya. Yang membedakan mereka bukan bentuk fisiknya, tapi otaknya. Secara fisik, manusia dan kera (orangutan, gorila, dan simpanse) tak banyak memiliki perbedaan. Semua anggota tubuh yang dimiliki manusia juga dimiliki kera, dari kepala, tangan, kaki, jumlah jemari, bahkan bagian-bagian internal dalam tubuh mereka, seperti jantung, hati, empedu, dan ginjal.

Bahkan, DNA, bagian paling penting yang membentuk tubuh manusia, tak banyak berbeda dari kera. Menurut penelitian terbaru, kedekatan DNA manusia dengan orangutan sekitar 96%, dengan gorila 97% dan dengan simpanse 99%.

Dengan semua kemiripan ini, pencapaian manusia jauh melampaui semua hewan jenis kera itu. Mengapa? Jawabannya adalah otak. Otak juga yang membedakan kera dari hewan-hewan lain. Para ilmuwan sepakat bahwa kera memiliki inteligensia di atas rata-rata hewan lainnya. Kera adalah satu-satunya jenis primata, selain manusia, yang memiliki kesadaran diri dan bisa menggunakan alat sederhana, seperti batu dan kayu. Otak kera memiliki ukuran yang lebih besar dari rata-rata hewan lain dan memiliki jaringan neuron yang sangat kompleks.

Ya hanya otak manusia yang bisa menandingi otak kera, baik dalam hal volume maupun kerumitan jaringan. Agama, seperti juga budaya dan produk-produk lainnya, adalah hasil kerja otak. Otaklah yang menciptakan bangunan, rumah, kuil, dan candi. Otak juga yang menciptakan konsep-konsep abstrak seperti kecantikan, keindahan, kekuasaan, kekuatan, kemurkaan, dan sebagainya. Konsep-konsep dalam agama, seperti Tuhan, dewa, malaikat, setan, dan sejenisnya, tidak datang begitu saja. Ia lahir dari otak yang sudah berkembang, maju, dan memiliki kosakata yang cukup untuk mengungkapkannya.

Otak manusia juga yang mengembangkan agama dari bentuknya yang “primitif” hingga menjadi agama-agama modern yang sistematis seperti sekarang. Tentu saja, ada sebagian ritual primitif yang hilang, tapi ada sebagian lain yang dipertahankan. Selama otak manusia masih bisa menerima ritual-ritual itu (seberapapun absurd-nya), dia akan terus hidup, tapi jika otak manusia tak bisa lagi menerimanya, ritual-ritual itu akan lenyap.

Misalnya, penyembelihan anak gadis untuk dipersembahkan kepada Tuhan (dewa) pernah menjadi ritual suatu agama atau seorang perempuan ikut terjun pada sebuah upacara pembakaran jenazah suaminya sebagai syarat masuk surga bersama-sama. Tapi ketika otak manusia tak lagi bisa menerimanya, ritual itu ditinggalkan. Pada akhirnya, seperti kata pepatah Arab: agama adalah akal. Tidak ada agama bagi yang tak berakal. Akal adalah pembimbing manusia yang paling alamiah. Tanpa akal, agama tak punya makna lalu apa bedanya dengan hewan?

Atau apakah kita beragama saja tanpa akal.sehat? Semua kembali kepada kita karena sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita secara pribadi.
Wallahu”alam bishowab.

Wasslammu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq
(Allah akan memberi jalan yang selurus-lurusnya dan sebenar benarnya)

Salam sejahtera, Shalom, Rahayu, Namaste 🙏

***
Tito Gatsu.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan