Sekjen PMN : Vandalisme Baliho Jokowi Oleh Pendukung Anies, Bukti Provokasi Demokrasi Ugal Ugalan

Lintas Peristiwa

banner iklan 468x60

Viral video perusakan baleho ucapan terima kasih kepada Jokowi yang dilakukan oleh pendukung militan Anies Baswedan menuai banyak komentar pedas. Awak media Suluhnusantaranews berhasil menelusuri siapa pelaku vandalisme berikut rekam jejaknya.

Pelaku adalah Elyasa Budianto ,asal Cikampek Karawang caleg gagal PKS yang dulu pernah di ciduk Banser Karawang karena menghina NU dan akhirnya minta maaf di atas materai. Elyasa yang kini menjabat sebagai ketua DPP AFPI (Anies For Presiden Indonesia) sekaligus Presidium Sekber Relawan Anies Karawang.

Komentar pedas disampaikan oleh Juang Kristanto selalu Sekjen PMN (Pejuang Marhaenis Nusantara) :

“Mendukung idola secara militan boleh saja, tetapi vandalisme (pengerusakan) justru menjadi potensi aksi adu domba yang tidak boleh dibiarkan. Usut pelakunya sesuai undang-undang” tegas Juang Kristanto dalam wawancara sambungan telefon dengan awak media.

Jika menilik peraturan, pelaku pengerusakan dapat dikenakan KUHP pasal 406 ayat 1 yang berbunyi :
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan, membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

“Wacana Anies adalah antitesis dari Jokowi di mata pendukungnya mulai menuai aksi. Apa yang salah dengan baleho Jokowi? Apa pula yang membuat pendukung Anies marah pada Jokowi? Relawan Anies menganggap apapun yang berbau kebijakan Jokowi adalah salah” lanjut Sekjen PMN yang juga pendukung setia Presiden Jokowi sejak 2014.

Juang Kristanto kembali menegaskan : “Ini menjadi bukti provokasi tatanan demokrasi yang sudah mengarah ugal-ugalan. Kelas ukuran intelektual pelaku sebagai kader partai dan relawan Anies ternyata masih kampungan. Saya yakin tidak hanya ada satu Elyasa, ada ribuan potensi sejenis yang siap menggunakan gaya preman arogan untuk menginjak-injak demokrasi, kerukunan dan kewibawaan pemerintah Jokowi”

Pemilu masih 2 tahun lagi, namun aksi dukung mendukung sudah mulai memanas. Di media sosial perang meme, komentar, pernyataan yang bersifat menyerang tanpa data dan fakta, menjadi santapan keseharian para netizen. Jabatan Presiden Jokowi sudah hampir selesai, sungguh naif jika masih dikaitkan dengan intervensi politik kepada kontestan Pilpres 2024 nanti.

“Yang mau maju nyapres Anies, yang diserang Jokowi. Bagaimana mau menang kalau untuk mendapatkan simpati dilakukan dengan cara menjatuhkan sosok lain. Itu namanya kader perusuh, bukan pendukung” pungkas Sekjen PMN bernada kritik pedas bagi semua pihak.
***
Redaksi Suluhnusantara

banner 120x600

Tinggalkan Balasan