Mengapa Jokowi Rajin ke Daerah Bertemu dan Menyapa Rakyatnya? 

Opini Akar Rumput

banner iklan 468x60

Ini salah satu rahasia cara Jokowi agar populer dan dicintai rakyatnya. Selama ini, tidak ada presiden yang berpikir sejauh itu, bahkan bisa jadi presiden di negara lain. Mungkin hanya Bung Karno yang juga melakukan hal sama ketika beliau menjabat sebagai Presiden RI pertama. Seperti diketahui, Jokowi sering berpergian ke daerah, bertemu langsung dengan rakyat di daerah lalu membagikan bantuan tunai ke pedagang di pasar.

Dalam kegiatan tersebut tidak ada acara formal berupa seremonial penyambutan khusus (hanya ketika melakukan beberapa peresmian bangunan sebagai program strategis nasional). Pada kebiasaan sebelum-sebelumnya, presiden datang ke daerah dalam sebuah acara formal, bertemu dengan pemerintah daerah setempat lalu kembali. Jika pun ada agenda melakukan peninjauan hanya dilakukan sekilas tanpa sempat bertemu atau bersapa langsung dengan masyarakat.

Namun berbeda dengan Jokowi, dia kerap melakukan sesuatu yang di luar jadual protokoler, hanya untuk menyempatkan bertegur sapa, salaman dengan masyarakat. Acara seremonial dikurangi, bahkan kata sambutan tidak perlu berpanjang-panjang. Demi mengoptimalkan waktu kunjungan, Jokowi lebih memilih mendatangi warganya, terutama ke pasar-pasar.

Pertanyaan bagi banyak orang, terutama pada politisi: apa perlunya melakukan itu? 

Banyak politisi berpikir, bukankah bisa di wakili menteri hanya untuk kunjungan ke daerah? Buat apa capek-capek menghabiskan waktu bersalaman, bicara dan foto bersama rakyat? Lalu bermunculan lah persepsi orang yang mengatakan Jokowi penuh pencitraan, sandiwara, mencari popularitas dan sebagainya. Tanpa disadari, sesungguhnya seorang pemimpin akan mendapat banyak dengan melakukan seperti yang Jokowi lakukan. Mau tahu apa?

1. Citra Pemimpin Kerakyatan.

Citra pemimpin dalam sebuah pemerintahan memang harus dibangun. Bagaimana rakyat mau percaya jika citra pemimpin buruk di mata mereka? Namun begitu, Jokowi tidak perlu bersusah payah membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyatnya, karena sejak awal menjadi birokrat, sebagai walikota Solo, dia sudah melakukan itu. Berbeda jika pemimpin yang karakternya malas turun ke bawah.

Maka dia harus banyak membangun pencitraan, bersandiwara, merekayasa seolah dekat dengan rakyat, terutama jika di depan kamera. Begitu tidak ada kamera, untuk disalami rakyat saja dia menampik, atau langsung mengelap tangannya. Perlu dibedakan antara citra atau persepsi dengan pencitraan. Citra pemimpin yang baik akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan terutama dukungan (legitimasi). Sementara pencitraan terlihat sekadar sebagai polesan saja.

2. Popularitas Meningkat.

Jokowi sangat paham bahwa masyarakat di daerah mendambakan Presiden datang ke tempat mereka. Jika warga ibu kota sudah terlalu sering bertemu atau melihat langsung sosok presiden, namun di daerah? Mereka hanya bisa menyaksikan di televisi atau video YouTube. Tentu respon warga ibukota dengan daerah akan sangat berbeda, seperti juga seorang artis yang mengadakan kunjungan atau konser di daerah, misalnya.

Masyarakat daerah cenderung senang jika ada orang penting datang ke daerah mereka. Hal ini dipahami betul oleh Jokowi sehingga dia kerap datang ke daerah terutama sekalian melihat atau meresmikan sesuatu di daerah tersebut. Bedanya dengan politisi lain, mereka datang hanya sekali dalam 5 tahun di saat kampanye pemilu saja. Dan ketika menjadi presiden pun sudah malas ke daerah-daerah untuk bertemu dengan rakyat. Jokowi tidak butuh popularitas lagi karena sudah akan berakhir masa jabatan keduanya.

3. Mendapat Informasi Valid.

Jokowi sudah kerap mengatakan tidak suka dengan ABS, maka salah satu caranya adalah dengan mengunjungi dan melihat langsung di lapangan. Bagaimana kondisi perekonomian di daerah-daerah, bagaimana keluhan pedagang di pasar-pasar, sampai sejauh mana progres proyek nasional di daerah, apa masalahnya? Melalui kunjungan langsung, seorang pemimpin mendapat informasi dari sumber pertama, memahami masalah, dan bisa segera menindaklanjuti jika prioritas.

4. Efek Perekonomian Daerah.

Melalui kunjungan diharapkan adanya efek bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu tujuan pemberian bantuan tunai yang dibagi-bagikan Jokowi kepada pedagang pasar di daerah adalah untuk meningkatkan daya beli masyarakat (menambah modal usaha), sehingga inflasi daerah dapat ditekan. Bayangkan saja per orang/pedagang mendapat 1,2 jt lalu dikalikan berapa banyak pedagang pasar? Maka akan terjadi perputaran uang di sana (transaksi ekonomi).

Dengan cara seperti ini menjadi salah satu faktor Indonesia mampu menghadapi krisis global yang kini masih melanda dunia. Bayangkan inflasi Inggris mencapai 10% menyebabkan salah satu negara maju tersebut diambang krisis (laporan terakhir, Inggris mampu melewati krisis karena pertumbuhannya flat alias 0, dibandingkan kuartal sebelumnya mencapai di bawah 0). Indonesia di mata dunia pun dianggap mampu melalui krisis ini.

5. Mewariskan Legacy. 

Mungkin yang jauh lebih penting lagi dari kunjungan ke daerah tersebut adalah, tertanamnya legacy Jokowi yang akan dikenang oleh sebagian besar orang terutama di daerah. Jokowi akan dikenal sebagai pemimpin yang memperhatikan daerah dengan mau mendatangi rakyatnya juga membangun di semua daerah, tidak lagi Jawa centris. Legacy ini tidak dikejar melainkan diberikan oleh rakyat sendiri. Jokowi sendiri mungkin tidak memikirkan.

Jokowi hanya seorang pemimpin yang senang berada di tengah-tengah rakyatnya, ngobrol atau sekadar menyapa dan bersalaman. Dia tidak perlu berpidato berapi-api guna meyakinkan rakyatnya untuk percaya pada dirinya. Jelas berbeda dengan Bung Karno setiap ke daerah, karena memang konteks masa nya berbeda. Jokowi juga tidak perlu berpenampilan necis dan glamour, layaknya artis-artis ibu kota yang datang ke daerah. Cukup datang saja bertemu, masyarakat sudah senang.

Niscaya, beda pemimpin beda gaya. Mungkin akan sulit memaksakan orang menjadi orang lain. Tulisan ini hanya memaparkan mengapa Jokowi bisa begitu populer sebagai pemimpin yang merakyat. Tidak hanya diidolakan oleh masyarakat dalam negeri bahkan juga dunia. Banyak dari mereka menjadikan Jokowi sebagai prototype pemimpin idola. Jika ingin seperti itu, maka lakukan gaya Jokowi, asal konsisten dan konsekuen. Karena sekali lagi, banyak pemimpin yang pura-pura merakyat saja.

***

Awib

banner 120x600

Tinggalkan Balasan