PNIB : Jangan Pernah Pilih PKS Pro Amerika Dan Partai Ummat Pengusung Politik Identitas, Jaga Kampung Desa Dan Tempat Ibadah Kita

PNIB Tolak Politik Identitas

banner iklan 468x60

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai salah satu partai politik yang pada awal didirikan bertujuan untuk mewujudnya negara bersyari’ah. Sebuah partisipasi politik melalui jalur partai yang ditentang banyak kalangan dikarenakan perjuangannya fokus pada perubahan mendasar NKRI menjadi negara yang menerapkan hukum syari’at Islam.

PKS yang mengusung ideologi Islamisme dan Konservative cenderung beraliran Wahabi. Yaitu sebuah gerakan Islam yang tidak mengenal sistem demokrasi. Kaderisasi yang dilakukan PKS dengan melakukan penyusupan di tempat ibadah dan komunitas pengajian, sudah bukan lagi menjadi rahasia umum.

Dengan mengadaptasi perjuangan Ikhwanul Muslim dari Mesir yang sudah dibubarkan dan dilarang di berbagai negara, menjadikan PKS sebagai partai dengan segudang kontroversi.

“Di NKRI yang menganut Bhineka Tunggal Ika, PKS menyumbang peran besar pada terpecah belahnya umat muslim. Mewujudkan negara bersyariah faktanya sudah banyak ditentang oleh mayoritas muslim di Indonesia. Kita sudah sepakat NKRI diproklamasikan sebagai negara kesatuan dan berdemokrasi, bukan negara Islam.  Ujung-ujungnya negara Islam adalah negara khilafah yang sudah terbukti menjadi pemicu perang saudara di timur tengah. Irak, Libya, Afghanistan dan Suriah hancur lebur karena perang saudara akibat perseteruan ambisi mendirikan negara Islam.” papar AR Waluyo Wasis Nugrogo (Gus Wal) selaku Ketua Umum organisasi lintas agama budaya Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB)

Gus Wal menilai apa yang dilakukan PKS selama ini telah memecah belah kerukunan umat beragama, baik sesama muslim dan juga antar agama.

“Kalau sudah mengusung perjuangan negara syari’ah sudah pasti akan menolak perbedaan keyakinan dan agama lain. Inilah awal lahirnya intoleransi. Mengatasnamakan kaum mayoritas kemudian  terjadiliah diskriminasi kepada kaum minoritas, itu sudah melukai Pancasila sebagai ideologi negara. Dan itu semua dilakukan oleh gerakan partai politik secara massif. Tidak hanya PKS. ada  parpol baru lahir kemarin sore dengan label Partai Ummat. Baru mau ikut Pemilu sudah lantang memperjuangkan politik identitas. Lha wong yang PKS dengan intoleransinya saja kita tolak, apalagi Partai Ummat  berslogan politik identitas dengan seruan penggunaan masjid sebagai arena berpolitik. Koyo wong gendheng ora  tau ngaji tapi ngakune paling Islam (red : seperti orang gila tidak pernah mengaji tapi mengaku paling Islam)” tegas Gus Wal.

Beberapa waktu yang lalu PKS dikabarkan resmi mendeklarasikan mantan Gubernur DKI, Anies Baswedan sebagai Capres 2024. Menurut Gus Wal, dukungan ini terlihat sangat tidak wajar dan patut diwaspadai.

“PKS mendukung resmi Bapak Politik Identitas Anies Baswedan untuk menjadi calon presiden 2024. Namun sebelum PKS mendeklarasikan ada moment politik penting  yang terjadi saat Duta Besar Amerika mendatangi markas DPP PKS. Apa yang dibicarakan, sudah pasti urusan politik. Amerika sebagai biang kekacauan dunia mendukung  Anies melalui PKS. Artinya PKS dan Anies tidak terbantahkan sudah sah menjadi kaki tangan Amerika di Indonesia. Amerika tidak punya urusan untuk nyoblos di Pemilu nanti, tapi dukungan dana dipastikan mengalir tak terbatas demi mensukseskan ambisi PKS dan Anies men-syariahkan Indonesia. Kelompok sarapatigenah sudah terbeli oleh Amerika  yang selama ini paling sering disebutnya kafir. Kalau Anies menang jadi Presiden berarti kita bukan menjadi negara syari’ah, tetapi negara kafir. Logikanya begitu kan? Negara syari’ah tapi yang modalin negara kafir, mau jadi apa Indonesia  nanti? Semua sudah salah kaprah gara-gara ambisi berkuasa”  jelas Gus Wal menyampaikan pendapatnya.

Indonesia bisa tetap ada dan berdiri seumur ini karena bersatunya kaum nasionalis dengan kaum religius. Berkolaborasi membangun bangsa di atas kemajemukan dan kebhinekaan. Agama tidak boleh dijadikan kedok untuk berkuasa, jika kita tidak ingin terjadi perang saudara.

“PNIB menghimbau kesadaran masyarakat yang masih waras untuk tidak mendukung partai yang hanya meminjam agama sebagai kepentingan berkuasa. PNIB konsisten menolak segala bentuk intoleransi, politik identitas, khilafah, radikalisme, terorisme dan ideologi asing sampai kiamat” pungkas Gus Wal di akhir wawancara.

***

Koresponden Suluhnusantaranews – Jombang (MohAlim)

banner 120x600

Tinggalkan Balasan