Budiman Sudjatmiko: Algoritma Bung Karno Menjawab Tantangan Masa Depan Indonesia

banner iklan 468x60

Saya tidak heran jika Budiman Sudjatmiko kembali membuka cakrawala pemikiran anak bangsa saat ini untuk menatap Indonesia ke depan. Kita memang rindu akan bahasan-bahasan kebangsaan dengan ide dan gagasan-gagasan besar. Selama ini tokoh politik kerap membicarakan isu terkait politik praktis saja.

Bahkan mereka yang berhasrat menjadi Presiden 2024, belum ada yang menggagas Indonesia ke depan seperti apa? Indonesia yang (harusnya) tidak kalah dengan China, Jepang, Korea, bahkan India. Dalam sebuah tayangan video (yang dikirim langsung oleh Budiman kepada penulis), Budiman mencoba mengupas bagaimana metode berpikir Bung Karno dihadapkan dengan tantangan bangsa saat ini dan ke depan.

Saya tertarik untuk menuliskan dialog dalam video tersebut, dan sudah mendapat izin dari Budiman, berikut beberapa kutipannya.

Jadi, yang dimaksud Budiman sebagai algoritma Bung Karno adalah cara kerja, cara berpikir, ataupun juga prosedur dan metode berjuang ala Bung Karno yang didigitalkan. “Bukan isi pikiran Bung Karno, karena kalau isi pikiran bisa usang karena kontekstual yang kini berbeda zamannya. Tapi ini cara kerjanya, kalau cara kerja itu bisa abadi,” ucap Budiman.

Menurut Budiman, ide tersebut terinspirasi dari sebuah tulisan Cristanto Wibisono, yang melakukan dialog imajiner dengan Bung Karno. “Jika Cristanto mampu menghadirkan Bung Karno secara imajiner, mengapa tidak jika dihadirkan dalam bentuk digital?

Apa saja unsur yang ada dalam algoritma Bung Karno yang disampaikan Budiman tersebut?

  1. Ruang geo politik
  2. Waktu sejarah
  3. Pergerakan rakyat
  4. Kematangan organisasi perjuangan masyarakat
  5. Kemampuan imajinasi.

Kelima unsur tersebut kemudian dimasukkan ke dalam algoritma dan ditambahkan data-data baru berupa persoalan yang tengah dihadapi, termasuk data geo politik terbaru.

Indonesia menurut Budiman memiliki banyak keunggulan terutama dari segi kekayaan flora fauna, keragaman sosio kultur, sumber alam mineral. Jika itu semua dikonsolidasikan ke dalam mega data yang mendapat asupan data terbaru, kemudian dituntun oleh algoritma Bung Karno, maka menurutnya, Indonesia tidak akan menjadi obyek lagi melainkan menjadi subjek.

“Hal ini jika Indonesia tidak salah menempatkan diri bahwa di era data maka Indonesia akan memimpin akan unggul, karena Indonesia tempatnya data dari segi keanekaragaman (verity), volume juga besar, hanya satu yang belum dimiliki Indonesia yakni velocity, kecepatan mengolah data (terkait teknologi),” tambah Budiman.

Jika diumpamakan kurikulum, maka kurikulum untuk 25 tahun V Indonesia nantinya (tahun 2045), yakni imajinasi. Siapa yang menguasai imajinasi dialah yang unggul. Jika seluruh data sudah terkonsolidasi dengan panduan algoritma Bung Karno tadi, maka tugas kita hanya berimajinasi.

Tentu imajinasi yang dimaksud bukan hanya berkhayal, melainkan imajinasi yang sudah terkonsolidasi dengan mega data tersebut. Pemimpin ke depan hanya akan membangun imajinasinya dari seluruh kekayaan tersebut kemudian membayangkan the future society kebahagiaan.

“Membayangkan kita ikut menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial.. Akhirnya, amanah konstitusi akan terwujud ketika ada Mega data dan algoritma Bung Karno yang menghitung semua itu tadi,” pungkas Budiman.

Gagasan besar yang disampaikan Budiman tersebut tidak sebatas wacana saja. Seperti diketahui, Budiman Sudjatmiko, selaku Ketua Pelaksana PT Kiniku Bintang Raya KSO, menginisiasi pembangunan proyek Bukit Algoritma. Kalau AS punya Silicon Valley, maka Indonesia akan memiliki Bukit Algoritma.

Silicon Valley, yang berada di selatan Teluk San Francisco California AS adalah rumah bagi banyak perusahaan teknologi baru dan global, seperti Google, Facebook dan Apple. Kawasan itu juga merupakan situs institusi yang berfokus pada pengembangan teknologi. Nah jika terlaksana negara kita juga sebentar lagi akan memiliki kawasan serupa itu yang berlokasi di Cikidang dan Cibadak,Sukabumi – Jawa Barat

Proyek Bukit Algoritma digadang-gadang menjadi pusat riset dan pengembangan berbasis teknologi yang akan dibangun di atas lahan seluar 888 hektare dengan nilai proyek yang fantastis mencapai 18 triliun rupiah. Ini diinisiasi oleh Kiniku Bintang Raya, Perusahaan konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Amarta Karya (AMKA) (Persero) dipercaya sebagai mitra infrastruktur Bukit Algoritma pada tahap pertama selama tiga tahun ke depan.

“Kawasan ini akan menjadi salah satu pusat untuk pengembangan inovasi dan teknologi tahap lanjut, seperti misal kecerdasan buatan, robotik, drone, hingga panel surya untuk energi yang bersih dan ramah lingkungan,” ujar Budiman dua tahun lalu (18/4/2021).

Budiman menambahkan saat ini sudah ada tiga universitas dalam negeri yang telah menyetujui untuk membangun pusat riset di Bukit Algoritma, yakni ITB, IPB, dan UNPAD. Masing-masing menerima hibah 25 hektare lahan.

“Lahannya silakan gratis tapi nanti profit sharing (bagi untung), hasil risetnya dibagi sama KSO tapi tanahnya gratis. Jadi tawarannya bisa beli, sewa, atau gratis,” papar Budiman yang juga sekaligus pendiri Gerakan Inovator 4.0.

***

Awib Feb’23

banner 120x600

Tinggalkan Balasan