Ibarat Ayam Dan Telur, Depo Plumpang Atau Pemukiman Yang Dipindahkan

Pertamina Plumpang

banner iklan 468x60

Musibah kebakaran depo Pertamina Plumpang menjadi polemik baru. Antara memindahkan warga atau memindahkan Depo.

Berdasarkan kajian dari Energy Watch dan juga beberapa institusi akademisi yang berkenaan dengan Energi yang juga bahannya dilaporkan kepada DPR. Kajian tersebut disampaikan juga kepada DEN alias Dewan Energi Nasional (DEN secara struktur diketuai Presiden.

Karena Energi itu adalah Esensial dan Strategis, sama kayak Intelijen dimana databasenya bersifat rahasia ketat. Mereka melaporkan bahwa sebenarnya Depo Plumpang sendiri sudah tak layak untuk jadi Terminal Depo terpadu yang melayani 25 persen kawasan Ibukota dan sekitarannya. Harus ada perbaikan dan lebih baik sekalian saja direlokasi karena tidak relevan dengan kondisi tataruang dan implikasinya terhadap kehidupan penduduk.

Memang lokasinya awal masih cenderung jauh dari Pusat Kota namun akhirnya BBtumbuh menjadi kawasan kota yang justru menyulitkan distribusi dan aksesibilitas jaringan minyak ke SPBU. Belum lagi (diluar buffer zone/penguasaan Pertamina 1-3 km) sebenarnya sudah tumbuh bangunan permanen yang menumpuk. Maka demikian memang seharusnya dipindah.

Usul mereka adalah, segera pindahkan ke kawasan tepi laut (antara Pulau buatan atau Pelabuhan) yang mana ada 3 faktor utama :
dekat dengan akses lalulintas tongkang sehingga memudahkan turunnya minyak dari kapal langsung disalurkan.
posisi tepi laut cenderung jauh dari keramaian yang mana tidak terlalu padat dan berpengaruh pada iklim
faktor keamanan yaitu di laut mudah dalam pengawasan karena masih termasuk wilayah operasi Militer selaku penanggungjawab keamanan Objek Vital Nasional.

Sebenarnya permukiman juga tidak tepat dibangun di kawasan Plumpang karena selain merupakan rawa-rawa gambut juga disitu sudah terlanjur ditanam pipa minyak yang usianya sudah tua, apabila suatu saat terjadi perubahan iklim dan juga seperti kebakaran hutan muncul api dari rawa bersinggungan dengan pipa yang sudah tua dan buruknya posisinya berada persis berbaur dengan permukiman akan jadi Bom Waktu yang tak kalah bahaya.

Maka demikian permukiman juga musti dipindah. Kawasan Plumpang harus jadi sterilized zone dibawah Pertamina, yang mana masih tersisa pipa-pipa yang permanen namun bisa dimaintenance sebagai cadangan minyak bila memang ada masalah di Terminal Depo (penyaluran skala kecil).

Penataan ruang harus jadi urgent, menjadi perhatian karena safety. Idealnya adalah, kawasan Plumpang musti steril 3 km sekitarannya demikian juga Depo Terminal Induk jika diletakkan di Reklamasi. Penataan ruang menurut akademisi, dan NGO yang berkaitan dengan energi memang sudah krusial selain perbaikan sistem pengawasan dan peningkatan fasilitas, SOP dan indikator berkaitan dengan keamanan dan aktivitas Depo harus improved standard terutama terhadap iklim dan bencana.

Analoginya seperti PLN yang mana Tiang SUTT, Gardu Induk maupun Pembangkit dibangun jauh dari Permukiman. Selayaknya untuk case Pertamina juga demikian.

Bolanya ada di Presiden, Menteri tidak bisa memutuskan karena Kebijakan Strategis Energi Nasional sudah ranahnya DEN, bukan lintas Kementerian lagi. Kita tunggu saja, antara permukiman yang dipindah duluan atau Deponya.

Musibah kebakaran depo Plumpang sudah bergeser ke arah politis. Memindahkan apapun pada akhirnya butuh Political Will. Jangankan hanya sebuah depo atau pemukiman warga. Memindahkan ibukota yang awalnya dipandang mustahil, sekarang sedang terjadi dan dikerjakan juga.
***
Redaksi Suluhnusantaranews, Dari berbagai sumber (D.Prasetyo)

banner 120x600

Tinggalkan Balasan